Laman

03 Maret, 2013

Kamu Adalah Orang yang Akan Ditunggu.

Waktu yang lama untuk menunggu seseorang yang kita sayang karena sedang  jauh di sana adalah tantangan terberat yang pernah aku lalui. Tidak ada satu orang pun menginginkan berjarak jauh dari orang yang disayanginya. Entah bagaimana aku tahan menunggu. Menunggu.
Kamu adalah orang yang akan aku tunggu, untuk melanjutkan 'kehidupan kita' di sini, bersama-sama lagi.
15552000 detik, waktu yang aku habiskan untuk itu. Menunggu.

But time flies too fast.
Semua yang ada di depan mata ku hanya bayang-bayang. Mungkin ini terlalu berlebihan, namun apa yang aku bisa lakukan saat aku rindu. Tidak akan menyalahkan waktu, perasaan dan kejujuran.
Bukan waktu yang salah, hanya ketololanku yang mau menunggu.
Bukan rasa yang salah, hanya kebodohanku untuk melepas rasamu begitu saja.
Dan juga bukan kejujuran yang aku salahkan karena rasamu telah hilang.

Maaf. Aku rindu kamu. Tapi, ya sudahlah, maaf terlalu banyak kata-kata seperti ini. Maaf, aku tau kamu tidak menyukainya.

Terimakasih juga untuk bisa jujur karena ada yang baru, hehe. 
Semoga sampai saat ini perasaanmu itu bohong. Tidak terlalu berharap. Tetapi memang tidak mungkin. 

Tidak akan membencimu karena telah menghilangkan perasaan mu itu selama tiga tahun.
Semua tidak akan menjadi sia-sia, walaupun aku sedikit ragu.
Tidak akan menuntut apa-apa lagi. Tidak ada lagi perempuan kecil rewel lagi di sampingmu, sekarang.
Terimakasih untuk tiga tahun ini.

Kamu adalah orang yang akan ditunggu.
Dan aku yang sedang berharap kamu tau bagaimana berada di posisi ini.


McDonald,
17 Desember 2009

01 Januari, 2013

Adanya di Hatimu

"Lihat deh itu cowoknya lucu ya, pake celana chino dan kemeja jeans"
Aku menunjuk seorang laki-laki jauh di depanku, Radit cuma mengangguk dan tetap fokus dengan smartphone-nya.
"Ih kamu itu nyebelin"

"Aku suka laki-laki berwajah oriental gitu Dit, terus calon dokter nilai plus-nya kalau dia seiman juga. Wah idaman."
"Apalagi yang kamu suka?"
Sambil membuka bungkus chiki rasa ayam bakar dan menyodorkan bungkusan itu kepadaku.
"Terus kalo dia berkacamata, wah terlihat pintar juga kan"
"Iya, terus?"
"Ih kamu ini, bosen dengar ceritaku?"
Aku sambil beranjak dari bangku taman sekolah dan mengembalikan chiki yang belum sempat aku makan.

Apa salah ya kita mau mencari sesorang yang kita idam-idamkan, salah ya. Rasanya tidak ada yang salah, toh cuma mimpi. Syukur-syukur jadi kenyataan. Waktu sudah malam, selamat tidur kamu jodoh. Haha, jodoh.

"Dit,Reg kenalin ini pacar ku"
Ata mengenalkan pacar barunya kepada kami berdua, yang katanya pacar ini udah menjadi idamannya.
"Gak ada yang mustahil kan Dit?" aku berbisik kepadanya.

Apakabar ya Ata, sudah lama tidak cerita-cerita ke dia. Tangan ini gatal rasanya mau menghubunginya.
"Ta kamu kemana aja sih, aku mau cerita"
"Hei aku juga mau cerita, atau besok kita bertemu saja ya Reg"

"Aku kemarin berantem sama pacar Reg, dia gak bisa mendengarkan celotehanku seperti kamu sabar mendengar celotehanku"
"Sabar ya..Aku bingung mau kasih solusi apa, Ta"
....................................

Tiba-tiba aku ingin bertemu Radit, rasanya aku sudah kalah 1-0.
"Diiiiiitttttt, aku mau cerita, Ata dengan pacarnya lagi cek cok, mereka merasa tidak cocok"
"Tuh kan"
"Tuh kan apa Dit?"
"Tuh kan, kalian perempuan hanya merasakan tertarik pada lelaki tipe saja. Hati? Tidak merasakan kan"
"Contohnya?" Aku serius menatap mukanya yang serius.
"Iya kamu suka laki-laki berkacamata, tapi kalau laki-laki itu sudah tidak memakai kacamata lagi. Apa kamu akan tetap menyukainya?"
"Benar juga kamu, apa ini yang dinamakan hanya mengagumi?"
"Besok-besok tanya hati dulu, mata bisa membutakan. Tapi hati? Siapa yang tau kan" sambil memberantakan rambutku.
"Haha kali ini aku kalah 1-0" sambil memukul lembut pipinya.